23 Apr 2013

Kisah Mie Instan



        Kemarin malam saya makan malam dengan 2 bungkus mie instan.Saya sendiri bingung kenapa saya mau menulis tentang ini.Sudah lebih dari 4 bulan saya berhenti nge-blog.Saya lebih memilih untuk menggunakan Facebook,Instagram dan Twitter (sebenarnya saya benci yang saya sebut terakhir itu),karena lebih praktis disela rutinitas saya yang padat.Tapi belakangan saya merasa jenuh sendiri,nggak tau juga kenapa.Saya butuh sesuatu yang 'lebih' untuk menyalurkan hasrat menulis.Dari situ terbesit untuk mulai menulis di blog ini lagi.


Well,terkait dengan mie instan yang ingin saya tulis,baru sadar bahwa saya tidak bisa lepas dari makanan instan yang satu ini.Terlebih lagi saya anak kos,dan merantau ke Jakarta untuk bekerja.Kalau saya ke kota ini untuk belajar lain lagi ceritanya.Rekan kerja saya heran,kenapa saya lebih memilih untuk menyimpan stok mie instan,daripada mengeluarkan uang untuk membeli nasi bungkus yang harga kisaran cuman 7-10rb. Gaji kamu buat apa? gitu kata mereka. Mereka pun mulai berceloteh mengenai bahaya seputar mie instan yang katanya dapat merusak usus. Saya tahu mereka bermaksud baik. Tapi saya bukan orang yang mudah puas terhadap omongan orang lain. Saya pun iseng googling nyari artikel tentang mie instan,dan menemukan beberapa artikel menarik,seperti indomie  ditarik peredaranya dari taiwan beberapa tahun silam,dan juga 3 dari mie instan indonesia dinobatkan dan masuk kategori sebagai 10 mie instan terlezat di dunia oleh pakar mie di seluruh dunia (heran,kerjaan para ahli mie ini ngapain aja ya?, Nyicipin mie mulu kali),bahkan menjadi nomor satu dan merajai ke-10 kategori,yaitu Indomie Special Fried Curly Noodles,yang lainnya adalah Mie Sedap Kari Special Kuah Kental dan Indomie Mi Goreng Jumbo Rasa Ayam Panggang.Keterangan lebih lanjut bisa googling sendiri,banyak kok blog yang sudah membahas hal itu,dan saya lagi nggak pengen nge-post tentang hal itu disini.

Sorry kalau saya nyebutin merek,lagian aneh ngebahas suatu produk tanpa nyebutin merek.Dan akhirnya saya menemukan artikel yang saya cari,bahaya tentang mengkonsumsi mie instan.Tapi saya malah tertarik ke artikel yang sepertinya 'unik' karena di pencarian teratas,hanya ada 2 webpage saja yang membahas,salah satunya dari Kompasiana,yaitu berisi bantahan seputar mitos dan presepsi salah mengenai bahaya mie instan,disertai dengan penjelasannya oleh Prof.Dr.F.G.Winarno, mantan Presiden Codex Dunia & Ketua Dewan Pakar PIPIMM (Pusat Informasi Produk Industri Makanan dan Minuman).Salah satunya yang masih saya ingat yaitu tentang mitos adanya lilin yang terkandung dalam mie,sehingga menyebabkan air rebusan berwarna kuning.Bantahan muncul dan menjelaskan kalau tidak ada satupun bahan lilin di dalam proses pembuatan mie.Tapi menariknya,yang membantah mitos juga menjelaskan informasi tambahan,bahwa di produksi alam juga banyak mengandung lilin misalnya seperti apel.

Kulit apel kalau digosok akan mengkilat,itulah yang disebut lilin alami,dan banyak lagi lainya.Sudah terhitung lama artikel itu dibuat,yaitu di tahun 2012.Siapa dalang dari artikel tersebut?saya juga tidak tahu secara pasti,mungkinkah para produsen mie membuat bantahan secara sistematis supaya produknya tetap laku,atau memang benar-benar dari pakar atau ahli yang dapat dipercayai kebenarannya?entahlah,tapi mengingat para produsenlah yang lebih tahu mengenai produknya,saya tidak mempercayai artikel itu secara penuh.Kemudian saya membaca dengan seksama dan membandingkan mitos bahaya beserta bantahanya.Saya pun pada akhirnya tidak sepenuhnya mempercayai keduanya.Dari berbagai komentar kebanyakan mengungkapkan nada sinis dan ketidak-setujuan,bahkan ada yang menulis bahwa artikel itu menyesatkan.Coba baca penggalan koran dibawah ini.(Klik untuk zoom)




Saya ingat pernah teman saya bercerita bahwa orang tuanya sedang tidak dirumah,dia kelaparan karena makanan habis.Saya bertanya kepada dia kenapa tidak makan mie instan,lumayanlah bisa sebagai pengganjal perut.Tapi dia bilang kalau dia tidak bisa makan mie,dia bisa langsung sakit,tapi setelah itu dia tidak menjelaskan sakit apa yang dia maksud.Saya merasa sih itu terlalu lebay,hehe.Tapi saya cukup heran mendengar penuturanya,saya tahu setiap orang itu berbeda.Tapi seberbahaya itukah mie instan?Padahal saya sering mengkonsumsi mie instan,coba banyangkan kalau mie instan itu benar-benar racun,berapa banyak racun yang saya masukan ke dalam tubuh ini. Well,terlepas dari pro dan kontra,tidak bisa dipungkiri kalau mie instan sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.Meskipun bukan makanan pokok,banyak masyarakat indonesia yang masih mengandalkan produk ini.Gini deh,saya ambil contoh saat kita berangkat berkemah,entah itu kegiatan pramuka,naik gunung atau kegiatan lain yang berhubungan dengan tenda dan alam (saya nggak bisa sebutin satu persatu,karena ada 1158 jenis kegiatan semacam ini).Pasti makanan cadangan yang terpikir pertama kali adalah mie instan,kenapa?karena simpel dan nggak ribet.Jarang sekali orang mau repot membawa beras untuk dimasak,karena walaupun sudah menjadi nasi,masih memerlukan lauk untuk dimakan (kecuali kalau emang beneran niat mau makan nasi putih hambar).Begitu pula saat ada kejadian bencana alam,pasti akan ada sumbangan bantuan yang berupa mie instan.Dan dari semua yang saya baca,saya merasa harus mengurangi makan mie instan.Saya memang tidak mempercayai keduanya,baik itu mitos bahaya atau bantahanya.Tapi saya sendiri merasa dan menyadari bahwa saya sudah 'over' dalam mengkomsumsi mie instan. Menurut junjungan saya, Nabi Muhammad SAW, dalam hadistnya berkata bahwa Allah membenci segala sesuat yang berlebihan (dilebih-lebihkan).Dari sana saya mulai mengurangi konsumsi mie saya,2 atau 3 hari sekali tak apalah,yang penting saya masih bisa makan,hehe.




NOTe : Kalau tertarik untuk melakukan eksperimen kecil,coba rebus mie instan goreng,tiriskan mienya,lalu biarkan air tirisan menjadi dingin (jangan dibuang).Tunggu 1-2 jam,kemudian coba lihat apa yang ada di air tirisan tersebut.Sekian.

                                                                                 XstraightedgeX
                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar