3 Mei 2013

Pak Gareng Penjual Dawet Ayu

         Jakarta yang terik,panas menyengat tubuh Pak Gareng. Penjual es dawet ayu asal Jawa Tengah itu berpeluh keringat dan membuat kaos buntungnya nampak basah. Meski begitu tidak nampak di wajahnya rasa lelah,tapi dari sorot matanya menyiratkan semangat untuk hidup.

"Pak Gareng,es dawetnya!"

Pria berumur 56 tahun itu menoleh,tampak beberapa anak yang berlari ke arahnya. Dia tersenyum kecil,segera dia meletakkan angkring dawet yang dipinggulnya selama berjalan. Serta merta dia melayani para pembeli kecilnya.
"Aduh uang saya ketinggalan," kata seorang anak dari kerumunan tersebut. Tampaknya ia kecewa tidak bisa membeli dawet ayu seperti temannya yang lain.
"Nak,ini saya kasih gratis," ujar Pak Gareng
"Tapi mama bilang jika membeli itu harus bayar" kata anak itu polos.
"Tak apa, ini ambil saja, pasti kamu juga merasa haus setelah bermain bersama teman-temanmu" kata Pak Gareng ramah.
"Terima kasih pak" kata anak itu riang,segera dia menyusul teman-temanya yang lebih dulu pergi.


Pak Gareng meneruskan perjalanan. Memang dia tidak terlalu mengambil keuntungan dari penjualanya. Ia seorang pensiunan pegawai kantor pos, yang juga mendapat uang pensiun. Ia mempunyai 3 orang anak dan semuanya sudah bekerja. Mereka selalu meminta Pak Gareng untuk berhenti dan beristirahat di rumah saja. Namun ia merasa jenuh berada di rumah. Maka ia lebih memilih berkeliling dan berjualan es dawet. Baginya bertemu pembeli dan mengenal banyak orang itu lebih penting dari keuntungan yang didapat.

Saat Ia beristirahat di bawah sebuah pohon rindang di pinggir jalan, sebuah mobil sedan tiba-tiba berhenti tidak jauh dari tempatnya. Seorang anak laki-laki turun dari mobil, disusul seseorang di belakangnya yang nampaknya ayah dari anak laki-laki itu. Pak Gareng kemudian menyadari bahwa mereka berjalan menuju ke arahnya. 

"Selamat sore Pak Gareng," ujar anak laki-laki itu
"Iya sore, maaf adik siapa ya?" kata Pak Gareng heran
"Saya Dimas,dan ini ayah saya,apakah bapak ingat saya," jawab anak yang bernama Dimas itu.
"Wah maaf bapak lupa nak,maklum bapak sudah tua tidak bisa mengingat semua orang," ujar dia sambil tertawa ramah
"Bapak pernah menolong saya sewaktu kehabisan uang dan kehausan setelah pulang sekolah,di depan SD Pertiwi 1," kata Dimas menjelaskan
"Aduh, bapak benar-benar lupa,tapi bapak bersyukur bisa membantu adik saat itu," kata Pak Gareng
"Ah tidak apa bapak, oh ya perkenalkan ayah saya," ujar Dimas
Keduanya pun bersalaman, Pak Gareng berbincang sebentar.
"Begini pak, saya ingin berterima kasih karena bapak telah membantu anak saya yang kesulitan pada saat itu, mohon diterima pak sebagai tanda terima kasih saya," jelas ayah dimas sambil mengulurkan amplop  coklat.
"Ah, tidak perlu pak, saya ikhlas bisa membantu nak dimas," Pak Gareng menolak dengan halus
"Tapi kami juga bersungguh-sungguh pak, dan kami ikhlas," kata ayah Dimas bersikukuh.
"Baiklah begini saja, jujur saya tidak bisa menerima uang pemberian bapak ini. bagaimana kalau bapak membeli es dawet Ayu saya dengan uang tersebut? sekalian bapak bisa mencicipi dawet ayu saya" tawar Pak Gareng ramah.
"Baiklah saya paham maksud bapak, kalau begitu saya akan beli semua dawet bapak hari ini," kata ayah Dimas
"Wah jangan,pelanggan yang lain pasti juga ingin menikmati dawet ayu, bagaimana kalau saya bungkuskan beberapa untuk bapak di rumah?" kata Pak Gareng terkekeh ramah
"Baiklah kalau bapak menghendaki seperti itu," ujar ayah Dimas sambil tersenyum.

Kemudian dengan segera Pak Gareng membungkuskan beberapa dawet ayu untuk kedua tamunya tersebut. Ayah Dimas merasa terkesan, di jaman seperti ini masih ada orang yang tulus,ramah dan gigih seperti Pak Gareng. Dia merasa mendapat pelajaran berharga. Kemudian setelah Pak Gareng selesai, serta merta mereka berpisah. Sebelum pergi ayah Dimas memberikan kartu namanya,dia meminta Pak Gareng jika ada kesulitan untuk menghubunginya. Pak Gareng sangat bersyukur bisa mengenal mereka, siapa sangka perbuatan baiknya dulu masih diingat oleh beberapa orang. Hari masih terang,Pak Gareng kemudian melanjutkan perjalananya.

"Dawet ayu...dawet ayu,"


NOTE : Cerita ini saya ambil dari ingatan saya saat membaca salah satu cerpen di majalah Bobo pada masa kanak-kanak. Begitu membekasnya cerita ini ke pikiran saya sehingga membuat saya menuliskan kembali. Tentu tidak 100% sama, tapi paling tidak menceritakan garis besar cerita dengan sedikit perubahan dan tambalan yang saya buat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar